Tugas essai Prodi Sastra Indonesia
ETIKA BERSOSIALISASI DI MASA TRANSISI
Yang kita ketahui tentang beretika ialah disaat kita mengeluarkan sebuah perilaku di tempat umum, dimana orang-orang menilai sikap etika kita seperti apa. Di masa-masa sebelum terjadinya Covid-19, etika bersosialisasi dilakukan secara tatap mata, mengobrol secara langsung. Tetapi itu semua sudah tidak bisa dilakukan karena harus membataskan fisik satu sama lain untuk menghindarkan penyakit yang menular.
Di masa transisi ini, banyak perubahan yang terjadi. Seperti kebiasaan masyarakat, tempat-tempat wisata, jalanan ibu kota, dan masih banyak lagi. Tetapi tidak mengurungkan niat banyak yang meciptakan beberapa cara untuk beretika tanpa harus berkontak fisik. Apalagi anak remaja yang memiliki ide untuk membuat aplikasi yang bermanfaat agar bersosialiasi di masa transisi ini tetap berlangsung. Di masa transisi ini memiliki segudang kesempatan untuk mengeluarkan ide kreatifitas mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, tidak jauh-jauh menciptakan perilaku etika bersosialisasi itu sendiri.
Pandemi Covid membuat mental masyarakat merosot karena mereka berpikir buruk tentang finansial, kesehatan, dll. Apalagi kurangnya bersosialiasi dengan orang-orang, kadangpun etika saat sehari-hari kurang diperlihatkan. Himbauan pemerintah meningkatkan norma dan sosial bagi masyarakat diharuskan, karena untuk meningkatkan jiwa etika bersosialasi di masa transisi ini.
Tugas pemerintah memberi wejangan untuk masyarakat agar
tetap mempertahankan jiwa sosialiasi antar tetangga. Tetapi itu semua dilakukan
dengan jaga jarak agar tetap memutus kontak penyakit menular. Semakin hari,
masyarakat pun bisa menjaga etika bersosialisasi sesama tetangga. Apalagi di
masa transisi ini sulit menumbuhkan jiwa sosialiasi. Karena semenjak pandemi
hanya bertumpu pada gadget saja. Padahal masa transisi ini membutuhkan banyak
sekali inovasi yang diciptakan oleh masyarakat.
Solusinya ialah kita sebagai warga Indonesia harus
menumbuhkan jiwa bersosialisasi dengan etika baik, di masa transisi ini tidak
perlu mengeluarkan berita buruk yang bisa merugikan kita semua. Apalagi anak
remaja yang tanpa bimbingan lebih dari orang tua mereka sendiri, membuat konten
yang kurang layak untuk diperlihatkan, seharusnya di masa transisi ini, mereka
memenfaatkan Gadget sebaik mungkin. Dan membangun etika bersosialisasinya
dengan anak remaja lain, kalau bisa membangun jiwa-jiwa relawan sesama remaja
agar terciptanya perkumpulan remaja yang berprestasi. Tidak menutup kemungkinan
semua dilakukan agar tradisi warga Indonesia yaitu bersosialisasi dengan jiwa
etika yang baik di masa transisi ini tetap berjalan sebaik mungkin dan tetap
terjaga tradisi tersebut.
Komentar
Posting Komentar